Tidak Perlu Membenturkan Sains dan Agama

Sains-dan-agama
White medication by Olivier Collet

Beberapa waktu yang lalu kami mendengar curhatan salah seorang ibu mengeluhkan keponakannya yang memilih dan mendeklarasikan dirinya sebagai agnostik (berlepas diri dari agama).

Usut punya usut karena anak yang baru lulus SMA itu merasa kecewa dengan penjelasan agama yang ada di kurikulum sekolah.

Cukup ironi rasanya ketika seseorang memutuskan menanggalkan agama justru karena kurikulum yang didesain untuk mengenalkan agama. Anak tersebut diketahui tidak bisa memahami titik temu apa-apa yang diajarkan agama dengan fakta yang dipaparkan sains, menurutnya sains lebih bisa diterima daripada penjelasan agama (di sekolahnya).

Well, bagitulah masa remaja... Syarat akan pencarian jati diri, asyik bertanya dan mempertanyakan. Kami hanya bisa berkomentar bahwa seseorang harus tetap tenang tatkala melihat fakta seperti yang terjadi pada anak SMA tersebut.


Memilih Menjadi Atheis Karena Sains, Masuk Akal?

Sekarang ada banyak sekali pihak yang gagap mendeklarasikan diri menjadi atheist, kami katakan gagap karena alasannya sangat nampak terburu-buru dan tidak hati-hati dalam berucap

"karena sains" ucap sebagian dari mereka, apakah memang sesederhana itu? bahwa sains menjadi alasan yang tepat untuk seseorang menjadi atheis?

Sebenarnya apa yang dimaksud dengan atheis? Mengacu pada penjelasan American Atheist bahwa atheis adalah sutu kondisi yang membuat seseorang itu kurang untuk beriman kepada Tuhan.

Bisa kita katakan bahwa athiesme yang kita kenal hanyalah sebuah statement, sebuah penyataan kategori yang mengekspresikan percaya pada ketidakpercayaan (belief in nonbelieve).

Seperti ungkapan "Saya ngga percaya, ya meskipun ga bisa membuktikannya untuk itu atau membantahnya, pokoknya saya ga percaya" Sebuah Deklarasi.

Baca juga Peran Religiusitas Masyarakat untuk Lingkungan

Tapi dalam sains kita tidak melakukan Deklarasi, dalam sains kita katakan "its okay, anda dapat memiliki hipotesis, kemudian anda harus memiliki beberapa bukti untuk itu." Well, hingga saat ini atheis yang selalu meminta bukti keberadaan Tuhan pun masih belum bisa memberi bukti Ketiadaan Tuhan

Begitupula dengan agnostik akan mengakui tidak ada hak untuk membuat pernyataan akhir tentang sesuatu yang dia tidak tahu. Carl Sagan pernah mengatakan "ketiadaan bukti bukanlah bukti ketiadaan", dia juga pernah berpesan bahwa lebih baik kita menunda menyimpulkan sesuatu yang memang belum kita ketahui.


Sederhana Memahami Perbedaan Metode Sains dan Agama

Dalam sebuah sistem -- dalam hal ini sistem sains dan sistem religi, pastinya ada aksioma & metode deduksi untuk membangun theorema.

Kalo kita mempertanyakan statement agama terhadap metode deduksi science tentunya tidak akan masuk akal.

Misal "eh kamu kok mengatakan ada kehidupan setelah kematian? Kan gaada eksperimennya"

Maka pembuktian dengan eksperimen merupakan metode dalam sistem science, dan tidak bisa ditranslasi sesederhana itu, karena memang skemanya berbeda.

Di dalam agama aksiomanya ialah "iman", yakni Dua Kalimat Syahadat (agama islam)

Kalo kita tidak meyakini pada aksioma tersebut, tidak beriman.

Kalo sudah meyakini aksioma, maka akibatnya semua theorema yg dikatakan Al-quran menjadi benar. Begitu metode deduksinya.

Kalo ditinjau menggunakan kacamata science, tentu non sense sama sekali. Karena tentu metode deduksinya berbeda, istilahnya "yang satu pakai sendok, yang satunya lagi pakai garpu."

Baca juga 10 Kaidah memahami hubungan islam dan sains

Terus benernya gimana? Faith.

Dalam science manusia tidak dilihat sebagai aksioma, sehingga eksperimen bisa dilakukan manusia manapun, dan hasilnya harus sama. Thats science.

Kalo dalam agama manusia menjadi aksioma, ibadahnya bisa aja sama tapi hasil bisa berbeda (sholat anda dengan sholat imam masjidil haram sama, tapi hasilnya?) ---bukan karena konsep ibadah tidak konsisten, tapi karena human as a factor di hitung dalam theorema tersebut. Kalo di science tidak dihitung.


Rendah Hati dalam Beragama dan Bersains

Sebelumnya kami pernah membahas tentang limitasi di postingan ini, pada banyak hal kita memiliki limitasi termasuk di dalamnya limitasi kita dalam mengetahui dan memahami sains maupun agama yang mulia.

Kami pernah mendengar nasihat dari ustadz muhammad nuzul dzikri, bahwa diantara "cara" agar kita lebih memahami agama ialah dengan bersikap rendah hati di hadapan ilmu agama.

Sebagaimana fir'aun yang menyadari keberadaan Allah ketika dirinya mulai tenggelam di laut, ketika dirinya mulai merendahkan diri --memahami bahwa tahta, harta, dan penjaganya sudah tidak dapat lagi menolongnya.

Ternyata dalam sains pun demikian, salah seorang fisikawan Marcelo Gleiser mengatakan bahwa humility akan membantu kita melihat sains lebih elegan.

Kita harus mengambil pendekatan yang lebih rendah hati terhadap sains, dalam arti bahwa jika kita melihat dengan cermat cara kerja sains, kita akan melihat bahwa ya, itu luar biasa wonderful — magnificent! tetapi memiliki batas.

Dan kita harus memahami dan menghormati batasan itu. Dan dengan melakukan itu, dengan memahami bagaimana sains berkembang, sains benar-benar menjadi percakapan spiritual yang mendalam dengan yang misterius, tentang semua hal yang tidak kita ketahui.

Sekian

follow instagram kami @elgharuty
Tidak Perlu Membenturkan Sains dan Agama
Baca juga :
Checkout Form Whatsapp
Data Anda
Data Lainnya
KIRIM