Peran Religiusitas Masyarakat untuk Lingkungan

Vietnam, Environment, Nature, Landscape, Asia, Hills

Selama ini padangan kita terhadap alam sangatlah mekanistik dan materialistik, hingga kita tidak benar-benar memahami nilai-nilai yang alam miliki.

Sejarah telah banyak membuktikan bahwa awal mula krisis lingkungan itu dimulai dari krisis kemanusiaan terlebih dahulu. Kita -manusia sangat berdampak pada berbagai dimensi kehidupan.

Krisis yang terjadi terefleksi begitu saja pada kerusakan moral manusia, hutan alam, dan lingkungan hidup. 

Salah satu diskursus yang menjadi perhatian menarik dari permasalahan ini adalah mengembalikannya nilai-nilai religius sebagai laku dan lampah manusia menajalani kehidupan. 

Dorongan transedental kepada Tuhan dapat menjadi stimulus yang akan berpengaruh dan efektif pada terwujudnya sikap dan perilkau untuk konservasi yang menggenapai rasa tanggung jawab secara 'vertikal'.

krisis-lingkungan

Stimulus Religius

Nilai-nilai religius menempati peringkat yang sangat tinggi dalam kehidupan manusia yang beradab. Manusia tidak lagi melihat lagi dunia secara meknistik ataupun materialistik, melainkan juga juga mengikat pandangen tersebut dengan nilai religiusitas yang universal, baik dan buruk, kebijaksanaan, etika, dan lainnya.

Religiusitas berkaitan dengan kebenaran ilahi yang bersifat absolut dan universal yang berangkat dari dan bermuara bersama hak asasi manusia, yakni hubungan seseorang denga Penciptanya. 

Demikian pula religiusitas seseorang tidak bisa diukur hanya dari kegiatan ritualnya saja, tetapi religiusitas juga tercermin dalam kehidupan sehari-hari yang menjunjung tinggi nilai luhur seperti keikhlashan beramal, jujur, tidak berkhianat dan lain sebagainya.

Para nabi dan para utusan adalah pihak yang membawa dan menebar nilai-nilai religius di tengah masyarakat telah menjadi energi stimulus dan sangat kuat dalam membangun sikap dan perilaku individu manusia dari zaman ke zaman, sepatutnya hingga hari ini. 

Religius tidak hanya berkenaan dengan kehidupan personal, melainkan juga sosial dan peradaban. Harari dalam deus mengatakan bahwa religi merupakan alasan manusia bersatu dan membangun peradaban selain uang dan imperium. 

lingkungan

Religiusitas dan Lingkungan

Konsep religus tentang masalah lingkungan terfokus pada pemikiran bahwa permasalahan lingkungan yang terjadi sekarang pada dasarnya merupakan masalah penyimpangan perilaku kita sebagai manusia dengan lingkungannya.

Modernitas menuntut kita melihat dunia secara fragmatis, dimana kita berinteraksi dengan lingkungan secara materialis, tanpa mengikat interaksi tesebut dengan nilai rohani, spiritual, moral dan etika.

Solusi dari hal ini adalah meluruskan pandangan dan tujuan hidup, pola pikir, sikap, dan perilaku kita sebagai manusia terhadap lingkungan dengan asas akhlak mulia berdasarkan nilai religius yang telah digariskan Tuhan.

Nabi muhammad shollallahu alaihi wasalam pernah bersabda yang secara makna -silahkan cek redaksi hadits di rumaysho.com sebagai berikut:

Barang siapa yang telah menanam pohon, dan pohonnya berbuah kemudian buahnya dimakan oleh orang atau binatang, maka Allah memberinya pahala sedekah. 

Sabda sang nabi telah memberikan energi 'stimulus' pada setiap individu pada masa itu dan setelahnya untuk memandang suatu amal tidak hanya pada materi fisiknya saja.

Baca juga belajar dari pandemi untuk masa depan lebih baik

Di riwayat lain dijelaskan al jazairi dalam minhajul muslim bahwa nabi bersabda : Apabila kiamat sedang terjadi dan di tanganmu menggenggam benih kurma, sekiranya kamu mampu menanamnya, maka tanamlah, niscaya kamu akan memetik hasilnya kelak.

 jadilah-baik

Religiusitas Merespon Fenomena Alam

Para ekoteologian Muslim mencoba menjawab krisis spiritualitas manusia modern dalam diskursus problematika ekologis dengan membangun imajinasi ekologi alternatif yang berdasarkan pada kebesaran Allah sebagai sumber segala kehidupan, dan responsibilitas kekhalifahan manusia dalam mengemban kepercayaan yang telah diberikan Allah kepadanya. 

Bahkan sejak tahun 1960an, pakar Eco-Islamic telah mengaplikasikan ajaran etika yang berdasarkan al-Qur'an dan al-Sunnah dalam membangun ecotheosentrism Islam. Dalam worldview ekologi Islam yang menjadikan tawheed sebagai jantungnya Islam (the heart of Islamic life) yang menyadarkan manusia jika alam berasal dari Allah jalla wa a'la. 

Tentunya, merealisasikan makna prinsip tauhid dalam realitas hidup manusia dengan berbuat apapun di alam semesta yang sesuai dengan kehendak-Nya, yakni dengan meraih dan menyatukan berbagai keragaman (mutiplicity) dalam bingkai kesatuan (unity). 

Hikmah yg bisa kita ambil dengan menjaga tauhid perbuatan sirik tidak semata-mata perkara personal kita dengan Allah dengan keMaha Esa-anNya. Namun juga untuk kepentingan seluruh makhluq di muka bumi.

Sebagai upaya menjaga dan memelihara alam, manusia dituntut melakukan sikap tidak berlebih-lebihan (in moderation), keseimbangan (balance) bahkan melakukan perlindungan (conservation) terhadap alam. 

Namun sebaliknya, jika alam dirusak akibat perilaku manusia, baik karena penyalahgunaan (misuse), pengrusakan (destruction), pemborosan (extravagance), maka yang akan terjadi adalah kerusakan (fasâd) di alam semesta. 

Dimana Kesemua prinsip spiritual ekologis ini menggambarkan relasi antara Rabb, alam, dan manusia, sebagaimana pemodelannya telah tersistemkan dalam sistem, manhaj/ metode, bahkan institusi (syariah) yang menjaga dan menyelamatkan alam dan segala makhluk ciptaan Allah jalla wa a'la. 

Baca juga krisis lingkungan mengancam lebih dari pandemi

Implikasi syariah seyogyanyalah menjadi bangunan spiritualitas etika keadilan terhadap lingkungan secara islami, yang secara aturan, kaidah, dan hukum telah menempatkan kewajiban manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi untuk bertanggung jawab dan menghormati interelasi antara manusia dan alam.

krisis-alam

Masyarakat Religius Menangani Masalah Lingkungan

Umar ibn al khattab radihiyallahu anhu sangat memberi perhatian kepada konsevasi lingkungan di era pemerintahannya pada abad ke-7 di tanah arab. Beliau memrintahkan untuk menjaga dan mengembangbiakkan tumbuhan dan hewan.

Bukti empiris tentang perhatiannya terhadap masalah konservasi ini diriwayatkan oleh Ammarah ibn Khuzaimah bin tsabit (dalam Al haritsi 2006. fiqh ekonomi umar ibn khattab) sebagai berikut: 

Aku menfengar Umar bin khattab berkata kepada ayahku "apa yang menghalangimu menanami tanahmu?" Ayahu berkata, "aku adalah orang yang sudah tua, aku akan mati besok!" Maka umar berkata "aku mendorongmu untuk menanam pohon!". Kemudian terlihat umar dan ayahku menanam pohon dengan tanagnnya sendiri.

Dalam kutipan di atas sangat terlihat jelas bagaimana umar mendorong manusia untuk menghidupkan lahannya dengan menanaminya, meski orang tersebut "tidak akan melihat hasilnya". Umar memahami betul  mengenai "hasil" yang sebenarnya dari konservasi yang dilakukan, bermanfaat dan penting bagi generasi selanjutnya, lingkungan maupun untuk pahala jariyah penanamnya sendiri.

sehingga orang yang menanam meninggal sekalipun tidak serta merta meninggalkan tanamannya begitu saja, namun akan tetap memperoleh pahala atas kebermanfaatannya yang telah ia tanam dan tumbuhkan.

***

Di sisi lain Para ekoteologian Muslim mencoba menjawab krisis manusia modern dalam diskursus problematika ekologis dengan membangun imajinasi ekologi alternatif yang berdasarkan pada kebesaran Allah sebagai sumber segala kehidupan, dan responsibilitas kekhalifahan manusia dalam mengemban kepercayaan yang telah diberikan Allah kepadanya. 

Para pendidik islam telah berikhtiar untuk mengilhami peran Muslim dalam memunculkan semangat kesadaran yang tinggi dalam pertanggungjawaban dirinya sebagai khalifah Allah dengan tidak berperilaku kejam dan merusak alam.

 Tentunya, pendidikan dalam ranah ini |telah membangun personalitas Islam dan menyadarkan manusia untuk memahami konsep dasar yang menjadi basis dari segala tingkah laku dan praktik keramahan dirinya terhadap alam. 

Konsep ini dapat menjadi dasar bagi lahirnya etika lingkungan yang bersifat holistik dan integral, yang menyadarkan manusia untuk lebih bersikap hati-hati, dan mempersiapkan apa yang akan ia bawa pada kehidupan di akhirat nanti.

Konsep ini juga dapat menjadi bingkai dan sekaligus rambu-rambu peringatan dalam kerangka pemanfaatan dan pengelolaan alam, sebagaimana manusia dilarang untuk mengeksploitasi alam dengan nafsu serakahnya dan berperilaku konsumtif yang melampui batas.

***


Terima Kasih Semoga bermanfaat



Peran Religiusitas Masyarakat untuk Lingkungan
Baca juga :
Checkout Form Whatsapp
Data Anda
Data Lainnya
KIRIM