Mahasiswa General Gausah Belajar Agama - Mencari Alasan (Reasoning)

Diantara sekelumit ungkapan yang tentunya memantik pro dan kontra dalam obrolan mahasiswa general (--saya menggunakan istilah mahasiswa general untuk membedakannya dengan mahasiswa fakultas agama hehe) yakni "apakah kita masih harus belajar agama?"

Sebagaimana kita ketahui bahwa pelajaran tentang Agama di indonesia sendiri menjadi bahan ajar wajib dari SD hingga Kuliah bahkan di sekolah-sekolah non madrasah, mungkin tujuan minimalnya agar generasi muda seperti kita bisa memahami hal-hal dasar dalam agama meski tidak menjadi pakar di dalamnya.

Kembali ke pertanyaan, jadi apakah perlu bagi mahasiswa general untuk terus memperdalam keilmuan agama di kampus ataupun di luar kampus?

Mengenal Identitas dan Personalitas Kita

Mengenal secara utuh domain pembahasan kita saat ini yakni, mahasiswa, agama dan diri kita sendiri. Kalau anda ditanya "kamu itu siapa sih?" apa yang akan anda jawab? apakah anda akan menjawab bahwa anda adalah mahasiswa? yang artinya tidak hanya anda yang seorang mahasiswa, apakah anda akan menjawab bahwa anda adalah pemeluk agama? yang artinya masih banyak di luar sana yang memeluk agama seperti anda.

jadi sebelum kita lanjut mengatakan apakah mahasiswa general/umu itu perlu atau tidak belajar agama, kita harus mengetahui "siapa" kita dan agama itu sendiri, dalam hal ini mana yang identitas dan mana yang persona.

Siapa kita?

Ada sebuah konsep yang diungkapkan para pemikir untuk menjelaskan pemaknaan yang utuh tentang eksistensi, dalam argumentasi kosmologi dikenal dua kata kunci agar mudah memahaminya yaitu, "necessity" dan "contigent". Necessity sebagai sesuatu yang harus ada di semesta ini, yang bahkan menjadi penyebab adanya contigent. kemudian contigent sebagai sesuatu yang boleh ada dan tidak ada di semesta ini.

Seandianya kita bawa terminologynya pada pembahasan kita kali ini, Identitas itu melekat pada sesuatu yang harus ada, katakanlah bahwa kita belum mengeatuhi necessity/sesuatu yang harus ada tersebut (untuk dicari kedepannya).

Necessity dalam diri kita ini kemudian menyatu dengan entitas biologis menjadi "kehidupan" --karena tidak semua entitas biologis hidup, kemdian menyatu lagi dengan entitas yang bang bernama ibu dan bapak menjadi "anak", kemudian menyatu lagi dengan entitas negara dan menjadi "warga" dan seterusnya.

Kalau kita perhatikan, maka ada identitas asli (bersama necessity) dan ada persona yang tampil (tentang mejadi seorang anak, warga negara, pekerja, dll).

Lantas kita sebagai mahasiswa itu identitas asli atau persona? kita menjadi mahasiswa karena kita (necessity) telah hidup, kemudian menjadi seorang anak, remaja, siswa dan kemudian menjadi bagian dari sebuah institusi/universitas, maka mahasiswa hanyalah persona bukan identitas asli kita.

Mahasiswa hanyalah persona kita

Kemudian bagaimana dengan Agama? meninjau terhadap apa yang disampaikan di dalam agama itu sendiri (dalam hal ini islam) maka sebagaimana penjelasan para ulama yakni basis kita diciptakan ialah untuk beribadah kepada Allah.

Merujuk pada artikel dari rumaysho.com bahwa ada banyak sekali ayat yang membahas bagian credential manusia ini diantaranya surah al dzariat 56, al mu'minun 115, al qiyamah 36 dan lainnya (bisa dicek sendiri) yang kesemua ini sangat gamblang menunjukkan siapa identitas asli kita sebagai manusia.

Pada penjelasan religius ini kita bisa memahami bahwa identitas kita sangat terkait erat dengan tujuan penciptaan manusia oleh Allah ta'ala, yakni 'abdullah --hamba Allah dengan beribadah hanya kepada Allah semata (al dzariyat 56).

Adapun syarat diterimanya ibadah itu sendiri sabagaimana yang dijelaskan oleh syaikh bin baz diantaranya ialah :

ولا بد مع ذلك من أن تكون هذه العبادة موافقة لما جاء به نبيه عليه الصلاة والسلام

yakni ibadah ini harus sesuai dengan apa yang dibawa oleh Nabi shollallahu alaihi wasalam

Maka Agama (islam) ini lah yang dibawa oleh sang Nabi shollallahu alaihi wasalam, dan agama ini terkait dan dibutuhkan untuk mencapai identitas asli kita yakni pihak yang menyembah Allah.

Jadi apapun persona kita di dunia, menjadi mahasiswa, pekerja, karyawan, raja, pemerintah dan lainnya maka identitas aslinya --berdasar pada tujuan ia diciptakan ialah 'abdullah (hamba Allah), yang tentu harus mempelajari agama karena dengan itu penghambaan kita dapat tercapai.

General dan spesifik religi

Ketika Saya atau anda yang mahasiswa general memutuskan untuk memulai atau meneruskan memperdalam ilmu agama, maka itu "good choice" pilihan yang bagus, karena meskipun bidang kompetisi kita secara personal tidak terkait dengan keilmuwan agama tetapi identitas kita yang paling dasar menuntutnya -membutuhkannya

Saat belajar agama artinya kita sedang memenuhi kebutuhan paling mendasar sebagai manusia, seorang yang bijak haruslah memperhatikan hal ini, mana yang prioritas bagi dirinya.


Memahami Limitasi Diri

Adalah benar bahwasannya kita mahasiswa general tidak seperti mahasiswa-mahasiswa fakultas agama --bidang kompetensi kita berbeda. Maka kita harus memahami limitasi dari hal tersebut, juga tidak perlu berkecil hati.

Porsi kita dalam mendalami ilmu agama tentu lebih kecil dari mahasiswa fakultas agama, apalagi kita yang baru mulai mempelajarinya.

Kita sebagai awam dalam bidang ini tentunya perlu berhati-hati dalam mengarunginya, kita harus semangat menuntunya tetapi jangan terburu-buru dalam mengakuisisinya. kita harus mengakui limitasi

Ustadz muhammad nuzul dzikri pernah mengatakan bahwa Allah yang Maha Penyayang tidak membebani kita sebagai orang awam untuk berijtihad sendiri, berfatwa, menentapkan mana hal-mana haram yang mana itu jelas bukan ranah orang awam, itu yang bisa kita pahami sejauh ini

Tetapi Allah menyuruh kita untuk bertanya kepada pihak berwenang atau ahli dalam masalah agama ini -bertanya kepada ahli ilmu,siapa? buka link ini.

Maka upaya yang bisa kita lakukan pertama ialah menaruh percaya kepada pihak yang bidang kompetensinya adalah ilmu agama, keahliannya di sana. Percaya dan menghormati senior kita yang paham masalah agama dan tidak sungkan bertanya kepada mereka, bahkan kepada teman kita yang sedang menempuh S1 di fakultas agama misalnya, minimal dengan mereka kita bisa meminta ssejumlah referensi teks atau info kajian dan pembahasan yang bisa kita ikuti.

Empirisikal atau Testimonial?

"kan ada yang bilang bahwa kita tuh jangan ikutin society, tapi langsung ke dalil" mungkin sering menderngar pernyataan itu, dan saya pribadi juga tidak ada masalah dengan itu. Tapi yang jadi masalah ialah apakah kita mampu secara kapasitas dan tools untuk melakukan pengkajian terhadap sumber-sumber primer agama?

Metode empirik memang sangat powerful, tapi bisa dilakukan oleh mereka yang memang bidang kompetensinya ilmu agama. Adapun kita tidak salah mengikuti testimoni para ahli, selama masih merujuk kepada ahli maka sufficient reason kita cukup untuk menerima informasi tersebut untuk diterapkan sebagaimana pembahasan sebelumnya.

Contohnya, ketika kita menggunakan google maps untuk mengetahui ke arah mana kita harus berjalan dan kita mempercayainya bukan karena kita paham bagaimana algorithma maps tersebut, melainkan karena testimoni ribuan pengguna dan ahli yang telah mencoba dan mengujinya.

kalau semuanya harus dikritisasi secara fundament, maka kita sebagai mahasiswa general tentu akan kehabisan banyak hal -waktu, tenaga.. kita tidak mungkin menggunakan maps kecuali diuji terus dari awal hingga tahu bagaimana proses berjalannya maps tersebut. Dari sanalah kita bisa melihat bahwa testimoni juga sangat penting.

Tokoh yang Bidang kompetensinya non ilmu agama, tapi dikenal mempelajari Agama

Kalau kita bercermin kepada sejarah maka ada banyak sekali tokoh yang dikenal aktif memperdalam agama meski bidang kompetensinya bukan ilmu agama, dari tokoh nasional, para syaikh di timur tengah, juga ustadz di negeri kita juga ada yang demikian.

Tokoh Nasional

Salah sau tokoh nasional favorit saya adalah H Agus salim rahimahullah, salah satu sejarawan pernah bilang bahwa beliau agus salim sangatlah lah cerdas dan memiliki kuriositas yang tinggi terhadap agamanya.

Syaikh ahmad khatib alminangkabawy salah satu guru beliau di saudi (menurut sebagian info beliau adalah pamannya sendiri) dikatakan pernah mengajari agus salim dangan metode empat mata (dialog) karena saking kritisnya beliau. Terkait hal ini buya hamka pernah menjelaskan bahwa karena agus salim memiliki khasanah yang luas dalam perspektif barat.

Tokoh favorit saya yang kedua ialah soekarno, tokoh nasional sekaligus presiden pertama indonesia ini seja muda sering terlibat pada gerakan nasional dan pendirian partai. Salah satu tokoh yang sangat kurious terhadap ranah pemikiran khususnya islam, beliau pernah mengatakan "aku menemukan islam ketika usiaku 15 tahun, saat menemani keluarga Tjokro (HOS Tjokroaminoto).

Menurutnya Tjokro adalah sosok penting dalam membuka matanya tentang islam, dan selain itu ia juga belajar tentang islam bersama muhammadiyah, dan menjadi guru ketika dipengasingan.

dan masih banyak tokoh nasional laninnya

Para Syaikh yang awalnya scientist

Doktor aris munandar pernah mengisahkan bahwa di mesir ada seorang ulama ahlu sunnah kibar (senior) bernama Syaikh Muhammad bin Ahmad bin Ismail bin Musthofa al Muqaddam.

Beliau mulai menjadi penyebar dakwah ahli sunnah salafiyyah sejak tahun 1972. Pada tahun 1977 di kota Iskandariah beliau mendirikan sekolah al Salafiyyah. Beliau memberikan kajian ilmiah di berbagai propinsi di Mesir di samping beberapa negara Arab, Eropa dan USA.

Di negeri timur tengah lainnya ada lagi semisal syaikh sholih al munajid, beliau pengasuh situsweb terkenal islamqa.info. Beliau ternyata memiliki latar belakang pendidikan formal teknik, alumni KFUPM (King Fahd University of Petroleum and Mineral), tapi beliau banyak duduk belajar di hadapan para ulama kibar Saudi di zamannya. Syaikh Bin Baz, Syaikh Ibnu Utsaimin, dan Syaikh Al Albani adalah guru beliau.

Dan Masih banyak masyaikh yang lain

.

Honorable mention

Para ustadz di indonesia pun tidak sedikit yang memiliki latar pendidikan umum tapi memiliki kecakapan dalam ilmu agama, bahkan memiliki double degree dari dua bidang sekaligus. Diantaranya Doktor andy oktavian latief, beliau memiliki gelar S3 di bidang Fisika dan sedang menempuh takhassus tingkat 3 pula di bidang fiqih dan ushul fiqh

Selain mengajar sebagai dosen di ITB beliau juga mengajar ilmu agama di beberapa tempat dan di yayasan yang beliau dirikan sendiri.

Ada juga ustadz muhammad abduh tuasikal (rumaysho.com) latar belakang teknik kimia, ustadz raehanul bahraen (kedokteran), ustadz ammi nur baits (teknik nuklir) dan yang lainnya. rahimahumullah rahmatan wasian.


Sekian catatan ini, semoga membantu sebagian dilematis mahasiswa umum yang ingin mulai mempelajari agama. Semoga Kita diberikan hidayah oleh Allah subhanahu watala dalam menempuh jalannya. Tulisan ini akan diupdate setelah ied fithri 2022. Selamat menjalankan ibadah puasa dan 10 hari terakhir ramdahan

Mahasiswa General Gausah Belajar Agama - Mencari Alasan (Reasoning)
Baca juga :
Checkout Form Whatsapp
Data Anda
Data Lainnya
KIRIM