Konsisten Dengan Mata Pencaharian Yang Halal

Kita hidup di era yang serba ada, banyak pilihan dan mudah aksesnya, dalam hal ini adalah urusan perniagaan. Dari yang mudah hingga yang susah, dari yang gaji cukup hingga tinggi, dari yang halal hingga yang haram. tinggal pilih.

Selama pandemi ada banyak pihak yang kehilangan pekerjaan, dan ada juga yang malah mendapat banyak pekerjaan selama menjalani pembatasan aktifitas selama pandemi.

Diantara fenomena unik yang membingkai fakta tersebut adalah munculnya pekerjaan-pekerjaan haram yang banyak menawarkan "hasil" dalam tekanan pandemi, dan mungkin untuk saat ini yang sudah kembali normal.

Kita saksikan di akhir masa pandemi kemarin ada banyak yang terlilit hutang pinjaman riba, banyak pemilik pinjaman akhirnya ditangkap aparat dan aplikasi pinjaman online (pinjol)nya dihentikan.

Juga kita saksikan bnayak orang yang terlibat perjudian dan tertipu "sultan" bodong yang suka flexing, yang akhirnya itu semua membawa petaka bagi yang mengikutinya, dari hilangnya harta dan hilangnya rasa kepercayaan.

Jika kita teliti ternyata kasus-kasus yang mereskan masyarakat tersebut sebenarnya kasus yang telah diperingatkan oleh syariah tentang keharamannya --not permissible seperti peminjaman riba dan perjudian tersebut.

Pada awalnya dua hal tersbut memang menjanjikan profit yang besar lagi instan, namun pada akhirnya hanya menjadi kesengsaraan. kalau kita lebih berhati-hati, sebenarnya ini bukan tentnag untung rugi, tetapi juga tentang keberkahan dari perniagaan tersebut yang tentunya juga harus memperhatikan apakah hal tersebut halal atau haram.

Baca juga Diantara hikmah dan tujuan pernikahan

Keberkahan tentunya tidak akan kita capai melalui keharaman, dan ini merupakan mental model yang krusial bagi kaum muslimin dalam berniaga, bahkan menjadi pembeda dirinya dengan orang non-muslim.

Meski diluar sana ada banyak sarana, cara, dan usaha yang bisa meningkatkan "keuntungan" namun bukan berarti segalanya dihalalkan, muslim akan tetap berpegang pada rambu-rambu syariah sebagai navigasinya.

Maka tak heran jika kaum muslimin tidak akan tertarik dengan perjudian, tidak akan berniaga dengan hal-hal yang diharamkan semisal makanan yang mengandung babi, minuman keras, narkoba, transaksi riba dan perniagaan terlarang lainnya.

Seorang muslimin hanya fokus kepada keshalihan dan kemashlahatan sekitarnya, maka ia tak akan tertarik untuk mengotori makanannya, darahnya, harta keluarga dan karyawannya dengan yang haram.

Sekian

Baca juga Tidak Perlu Membenturkan Sains dan Agama
Konsisten Dengan Mata Pencaharian Yang Halal
Baca juga :
Checkout Form Whatsapp
Data Anda
Data Lainnya
KIRIM