Antara Buya Hamka dan Pramoedya Ananta Toer

buya-hamka-hd

Saya sangat suka sekali membaca karya-karya hamka, baik novel yang ia karang, gagasan ilmiyah yang ia tulis, dan kadang juga senang mencari tahu pendapat beliau pada perkara-perkara islam. Ya, beliau memang sangat dikenal masyarakat sebagai ulama yang sekaligus sastrawan.

Tenggelamnya Kapal Van der Wijck merupakan salah satu masterpiece novel yang pernah ia karang, sebagaimana judunya para pembaca juga benar-benar dibawa "tenggelam" dalam cerita yang dibawakan dalam ceritanya.

Awal konflik

Diantara fakta yang menarik yang terkait dari karyanya ini ialah konfliknya dengan pram yang sempat memanas pada awal tahun 1963. Saat itu penerbit Harian Rakyat dan Bintang Timur memberitakan bahwa novel karya hamka yang berjudul tenggelamnya kapal van der wijk ini merupakan karya jiplakan dari seorang sastrawan francis, alfoso carr.

Tuduhan ini tidaklah sebentar terdapat banyak pihak yang menyerang bahkan hingga berbulan-bulan mencecar pribadi hamka, meski pada akhirnya tuduhan itu dibantah dengan sanagat jelas oleh H.B Jassin, namun kejadian ini telah menggoreskan keadaan dimana hamka mulai berselisih serius dengan pramoedya ananta toer.

Seiring dengan berjalannya waktu, pasca G30 S PKI aktivis lekra, Pram termasuk diantara tooh yang ditangkap dan ia dipenjaeakan di pulau Buru. Kemudian setelah beberapa tahun ia kembali bebas, begitu pul dengan Hamka yang tak pernah menyinggung perselisihannya dengan pram sedikitpun.

Kedua hati yang lapang

irfan hamka dalam bukunya "Ayah" menceritakan, suatu waktu ada seorang perempuan jawa bernama astuti dan disampingnya seorang pemuda keturunan tiongkok. "saat astuti memperkenalkan dirinya, Ayah terkejut karena astuti adalah anak sulung dari pram". Ia mengutarakan maksud kedatanagnnya ke sana karena pram meminta hamka untuk menuntun calon mantunya yang bernama Daniel setiawan masuk islam dan mengajarkan islam kepada dirinya

Hamka pun langsung menyetujuinya tanpa ragu, daniel bersyahadat bersama bimbingannya, hamka pun menyaankan ia agar segera khitan. Sepanjang pertemuannya dengan astuti, hamka tak pernah membahas sedikitpun masalahnya dengan pram.

Menurut Hoedaifah Koeddah --salah stau rekan pram menyatakan bahwa diutusnya astuti kepada hamka ialah bentuk permohonan maaf pram kepadanya. Sungguh realita yang enyentuh kalbu, dibawah perbedaan idiologis keduanya pada akhirnya islamlah yang mendamaikan mereka.

Hamka memang sosok yang lembut dan pemaaf, hal ini bisa kita saksikan lagi bagaimana respon beliau dalam menerima permintaan maaf soekarno yang telah memenjarakannya. ia bilang bahwa meski saat itu seokarno memiliki kesalahan yang fatal dengan membiarkan komunisme, namun soekarno masih soekarno yang telah berjasa bagi negeri ini. hamka juga pernah bilang bahwa bangsa ini adalah bangsa pemaaf.

Sekian, semoga bermnafaat

Antara Buya Hamka dan Pramoedya Ananta Toer
Baca juga :
Checkout Form Whatsapp
Data Anda
Data Lainnya
KIRIM