Menghidupi Jiwa Sang Petarung: Menatap Kompleksitas Tantangan Kehidupan

“Jika harus sakit: sakitlah karena bertarung, bukan memukuli diri sendiri! Kalah setelah berjuang lebih terhormat dibandingkan kalah di atas kepasrahan” – Agung Zakaria

Well, Kawan Elgharuty mungkin masing-masing dari kita sering menonton film dengan berbagai genre. Dari film-film tersebut tak jarang ditampilkan kehidupan yang kompleks dan rumit dengan berbagai masalah yang diusung, salah satunya ada pada film Korea berjudul ASHFALL.

Film yang dirilis di Indonesia pada 8 Januari 2020 ini mengusung cerita perjalanan dua orang ayah yang terlibat dalam misi penyelamatan atas bencana alam dahsyat yang melanda Korea pada saat itu, yaitu letusan Gunung Baekdu–gunung tertinggi di Korea Selatan.

Bencana ini akan berdampak pada kedua bagian Korea, baik Selatan maupun Utara, apabila tidak dimanipulasi untuk pengurangan dampak letusan gunung berapi tersebut.Pakar dari Korea Selatan memberikan keputusan untuk meledakkan nuklir di ruang galian bawah tanah yang sangat dalam di perbatasan Korea Utara dan China guna mencegah dampak letusan yang lebih parah, dan menyelamatkan Korea agar tak hilang dari peta dunia alias hancurnya daratan Semenanjung Korea dari muka bumi.

Dua tokoh penting dalam film ini digambarkan adalah dua pria yang masing-masing berasal dari dua negara yang bersitegang. Satu pria berasal dari Korea Selatan yang merupakan pakar peledak yang memiliki istri tengah hamil tua, dan satu pria merupakan tentara Korea Utara yang terpenjara selama bertahun-tahun dan memiliki anak istri yang terlantar akibat keadaan tersebut.

Pertemuan dua tokoh ini mulanya bersifat saling kontra sebab membawa kepentingan negara masing-masing, hingga mereka memutuskan untuk saling membantu dalam upaya misi penyelamatan wilayah Korea ini setelah banyak melewati kejadian emosional bersama.

Pada akhir cerita, tokoh dari Korea Utara memutuskan untuk terjun ke galian bawah tanah dan ikut mati bersama ledakan nuklir yang merupakan jalan satu-satunya untuk menyelamatkan Korea, sedangkan pria dari Korea Selatan melanjutkan hidup bersama keluarganya dan membawa amanah besar dari rekannya tersebut yang telah merelakan nyawanya demi kehidupan umat.

Kita, Sang Petarung Sejati

Ada kutipan menarik yang dapat diambil dari fil ASHFALL ini, yaitu “Adakah yang tahu mengapa bagian belakang kepala tidak memiliki mata? -- Jangan melihat ke belakang!” kutipan yang diambil dari percakapan dua tokoh utama pada film tersebut mengajarkan kita untuk tidak hidup dalam masa lalu, dan selalu optimis untuk menghiduli masa kini dan membawa harapan untuk masa depan. Masa lalu memang bukan hal yang sepenuhnya untuk dilupakan, melainkan ia dihadirkan sebagai bahan renungan untuk selalu memperbaikikehidupan.

Cerita singkat mengenai film fiktif bergenre action-adventure-drama ini mungkin tidak mencakup seluruh bagian cerita dengan benar. Namun, satu hal yang dapat diambil adalah film ini mengajarkan banyak nilai-nilai kehidupan, khusunya pada hal-hal yang tak terprediksi kedatangannya dan harus dihadapi secara spontan.

Masalah-masalah besar bisa saja hadir dan melibatkan kita untuk masuk ke dalam kerumitan di dalamnya, karenanya penting bagi kita untuk siap menghidupkan “Jiwa Sang Petarung” yang ada dalam diri kita masing-masing, Kawan Elgharuty!

Setiap dari kita telah dibekali oleh Tuhan suatu naluri untuk bertahan hidup. Melalui naluri ini, manusia diberikan insting untuk melawan sesuatu yang mengancam keselamatan hidupnya, atau mempertahankan diri dari serangan luar baik yang berpotensi menyakiti fisik atau bahkan sebatas merendahkan harga diri. Diperlukan adanya pembiasaan pada diri kita untuk dapat menghidupkan Jiwa Sang Petarung dalam menghadapi kompleksitas tantangan kehidupan yang kita hadapi.

Kisah fiktif dalam film ASHFALL mungkin terasa sangat jauh dari nyata, tetapi jalan cerita tersebut dapat dielaborasikan pada kehidupan kita masing-masing yang apabila direnungi, maka bisa dipahami bahwa terkadang kita menghadapi permasalahan yang tak sederhana dan membutuhkan strategi penyelesaian yang mendesak.

Siapkan Diri untuk Hadapi Tantangan

Tantangan kehidupan di era modern ini bisa hadir dari segala sisi, baik dari ranah karir, pendidikan, hingga kehidupan sosial di masyarakat yang terbentuk dari heterogenitas dan berpotensi untuk munculnya masalah kapan saja.

Dalam menyikapi potensi munculnya masalah, kita bisa menyiapkan diri dengan bekal-bekal ilmu, seperti ilmu terkait bagaimana seseorang berinteraksi dan memosisikan diri di masyarakat agar dapat diterima dengan baik, ilmu terkait hal-hal yang dapat menunjang karir agar kita bisa memiliki banyak kemampuan dan tak hanya bergantung pada satu bidang keahlian, hingga ilmu bela diri sebagai bekal jika suatu saat mendapati kejadian yang tak terduga.

Tindakan preventif ini penting untuk dilakukan guna menghidupkan Jiwa Sang Petarung sejati, jiwa yang siap menghadapi kehidupan dengan segala potensi permasalahan di samping selalu berserah diri dan meminta perlindungan dari Tuhan agar senantiasa diberi keselamatan. Oh ya, bagi Kawan Elgharuty yang penasaran dengan cerita utuh dalam film ASHFALL, bisa tonton film tersebut di media streaming berlisensi legal.

Kawan Elgharuty juga bisa berbagi kisah singkat mengenai cara Kawan Elgharuty dalam menghidupkan Jiwa Sang Petarung pada kolom komentar di bawah ini, ya!

Additional article by Agung Zakaria (instagram.com/ag._.ng)
Menghidupi Jiwa Sang Petarung: Menatap Kompleksitas Tantangan Kehidupan
Baca juga :
Checkout Form Whatsapp
Data Anda
Data Lainnya
KIRIM