Bagaimana Kisah-kisah Membentuk Manusia

Dunia ini penuh dengan keajaiban, misteri, dan keunikan. Tidak mengherankan bahwa para ilmuwan, penjelajah, dan cendikiwan lain telah mengabdikan hidup mereka untuk belajar lebih banyak tentang alam semesta tempat kita hidup.

Banyak topik yang kita pelajari secara formal maupun non-formal sangatlah kompleks bahkan sains hingga saat ini belum menemukan semua jawabannya. Apalagi semenjak memasuki abad 20 para fisikawan telah mengamini bahwa mereka hanya mengetahui 4 persen saja materi fisik, sisanya sesuatu yang belum mereka ketahui dari dark matter and gasses.

Di samping itu kita sebagai manusia terus berkembang (evolve); segera setelah kita mengembangkan kekuatan bicara, menggunakan bahasa, kisah, dan agama untuk menambah makna keberadaan hidup kita di dunia.

Kita juga telah belajar menggunakan konsep-konsep ini sebagai alat untuk menavigasi kehidupan. Dengan Agama menjadi tuntunan hidup trancedent, dengan bahasa kita bisa membangun kerjasama dengan manusia, pun dengan kisah kita bisa berbagi informasi dengan orang lain.

Bermula Dari Kisah

Katakanlah di suatu hari kamu akan mengadakan rapat dengan atasan. Kemudian kamu terlambat untuk mengerjakan laporan yang dia minta untuk segera diselesaikan.

Setibanya di kantor, langkah kamu mungkin diwarnai dengan keraguan dan kamu mungkin mendapati diri sedang memvisualisasikan tentang bagaimana hukumannya. Bertanya-tanya apakah dia akan memecatmu, apakah dia akan marah.

Mungkin kamu membayangkan apa yang akan dia katakan saat saat memasuki kantor. Bisa saja dia akan tetap tenang tentang hal itu atau malah itu akan menjadi bencana besar.

Apa pun yang terjadi, bisa dipastikan bahwa kamu telah membayangkan "hasil" untuk setiap kemungkinan yang akan terjadi. Dan apakah kamu memikirkannya seperti itu atau tidak, pemikiran ini sebenarnya adalah kisah yang kamu kisahkan pada diri sendiri untuk memprediksi hasil atau untuk memberikan kepastian terhadap diri.

kisah putri duyung - kritisasi

Ragam Kisah

Ada banyak hal yang sama berlaku untuk kisah yang tidak melibatkan kita secara langsung. Jika kamu seperti kebanyakan orang, kamu mungkin memiliki kenangan masa kecil tentang ckisah urban legend yang populer di daerah sekitar, Kisah dalam literasi Agama, petuah-petuah seperti pamali di tatar sunda, atau dongeng yang dikisahkan oleh orang tua.

Kisah-kisah ini dimaksudkan untuk membantu kita menavigasi dunia karena mereka membentuk pemahaman kita tentang konsep gambaran besar tentang keberadaan manusia.

Misalnya, fabel klasik konlik antara si kelinci dan kura-kura mengajarkan kepada kita bahwa “pelan tapi mantap bisa memenangkan perlombaan”; dari kisah ini, kita belajar bahwa jika kita melakukan yang terbaik dan meluangkan waktu, pada akhirnya kita akan menang.

Demikian pula dengan kisah-kisah dalam literatur agama, dalam Al quran misalnya terdapat banyak kisah seperti tentang Nabi yusuf yang berkaitan dengan kesabaran, dan keteguhan dalam hidup, dan kisah asal-usul nabi adam sebagai manusia pertama menghiligth interpretasi kaum muslimin terhadap dunia dan tujuan penciptaannya, serta masih banyak lagi hikmah yang bisa kita gali darinya (hikmah kisah dalam al quran, muslim.or.id).

Kenapa Kisah

Sepertinya semua orang tahu kisah tadi. Itu karena kita mewariskannya dari satu generasi ke generasi berikutnya seperti yang dilakukan orang tua dan kakek-nenek kepada kita. Sehingga, kisah-kisah ini dan pelajarannya membentuk worldview dan hubungan kita dengan moralitas.

Baca kisah an nawawi dalam menjaga keikhlashan

Tapi pernahkah kamu bertanya-tanya mengapa kisah begitu efektif? Atau bagaimana mereka survive untuk diwariskan dari generasi ke generasi? Seperti halnya dengan banyak aspek penting dari keberadaan manusia, penjelasan paling sederhana seringkali yang paling benar, dan begitupula dengan kisah.

Sederhananya, kisah-kisah bertahan karena mereka mengundang kita untuk terlibat dengannya. Mereka mengaktifkan imajinasi dan emosi sehingga memungkinkan kita untuk "hidup" terwakilan melalui karakter.

Dengan melakukan itu, kita bebas mengakses wawasan moral yang mungkin kita luput darinya, ketimbang jika seseorang berbicara langsung kepada kita tentang perilaku kita sendiri.

How it works?

Untuk mempertimbangkan bagaimana cara kerjanya secara praktik, mari kita lihat dongeng yang sangat polos dan kembali ke analogi kita tentang kura-kura dan kelinci.

Sementara banyak mitos mengambil pendekatan yang jauh lebih "dark", memeriksa unsur-unsur penting dari moralitas manusia, dongeng kura-kura dan kelinci secara universal berlaku untuk segala usia.

Jadi, bayangkan kamu bergumul dengan masalah yang sama seperti yang dialami kelinci. kamu sering menggigit lebih dari yang bisa kamu kunyah atau kamu melebih-lebihkan kemampuan kamu sendiri.

Mungkin kamu sedikit lebih sombong dari yang seharusnya dan membiarkan harga diri menguasai dirimu. Jadi, bayangkan seseorang datang dan memberi tahu semua hal tentang diri kamu.

Apakah kamu akan menerima apa yang mereka katakan? Apakah kamu akan berterima kasih atas wawasan mereka dan bersedia untuk melihat secara jujur dan introspektif pada perilaku kamu sendiri? Atau apakah kamu akan merasa diserang dan dibenci?

Jujur saja - bagi kebanyakan dari kita, itu akan menjadi perasaan paling negatif.

Fabel kura-kura dan kelinci menempatkan kamu sebagai pengamat luar, mudah bagi kamu untuk flashback dan mengevaluasi perilaku kedua karakter secara objektif.

Mungkin saat kita mengignat kisah tersebut, ada kalanya kita berkata "hei, si kelinci itu "bodoh", ia malah memperlambat kecepatan larinya". kemudian pada momen tertentu kita juga merasa pada kondisi yang sama dengan si keclinci.

Salah satu kemampuan kita berkisah juga teruji dalam aktifitas gosip, baca selengkapnya

Faktanya, bisa saja kamu memiliki lebih banyak kesamaan dari yang terpikirkan. Jadi, saat kamu merenungkan hikmah yang baru ditemukan, kamu memiliki kesempatan untuk mengatakan, “Hei, saya harus mengubahnya! Saya akan jauh lebih bahagia dan lebih sukses jika saya mengambil pelajaran dari sang kura-kura!”.

Dari contoh ini, kamu dapat melihat bagaimana kisah membantu kita belajar lebih banyak tentang diri kita sendiri, moralitas kita, dan nilai-nilai yang ingin kita tanamkan.

selain membantu kita mengkritisi ulang sisi moralitas, kisah juga berguna untuk memahami dunia. Sebagaimana telah sedikit kita singgung bahwa dalam ranah agama pun kisah digunakan untuk kita dapat mengambil hikmah kehidupan.
Bagaimana Kisah-kisah Membentuk Manusia
Baca juga :
Checkout Form Whatsapp
Data Anda
Data Lainnya
KIRIM