Potret ulama dalam menjaga keikhlasan

Kisah imam An-nawawi
Best 500+ Library Pictures [HD] | Download Free Images on Unsplash
Al Imam Yahya bin Syaraf bin Murri Abu Dzakariya An Nawawi Rahimahullah. Siapa yang tidak kenal beliau? Beliau penulis kitab Hadits Arbain An-Nawawiyah, Al Adzkar, Riyadhus Shalihin, Al Minhaj syarah Shahih Muslim, dan banyak kitab lainnya. Beliau adalah salah satu pembesar dalam madzhab Syafi’i. bahkan pendapat beliau dalam madzhab syafi’i hanya bisa dikalahkan oleh pendapat Ar Rafi’i. Oleh karena itu terjadi khilaf di kalangan madzhab Syafi’i, mana yang rangking 1 di madzhab syafi’i: apakah An Nawawi atau Ar-Rafi’i. namun banyak ulama di madzhab syafi’i mengatakan yang rangking 1 adalah An Nawawi, karena An Nawawi lebih banyak dan lebih dalam mengetahui hadits dibandingkan Ar Rafi’i. Jadi kalau di madzhab syafi’i, Al Hafidz Ibnu Hajar (pengarang kitab Bulughul Maram), Ad Dzahabi, Ibnu Katsir, mereka semua levelnya masih dibawah Imam Nawawi dari segi keilmuan. Beliau ulama nomor satu dalam madzhab Syafi’i.
Campden BRI-supported student receives PhD
Sehingga gelar yang diberikan oleh para ulama kepada Imam Nawawi apa? LC? lewat. MA, Doktor, P.Hd? lewat semua. Gelar yang disematkan kepada beliau adalah: Muhyiddin. Apa artinya Muhyiddin? artinya adalah: Penghidup Agama. Karena saking fenomenalnya karya-karya beliau, dan betapa besarnya jasa-jasa beliau, seakan-akan beliau menghidupkan lagi agama. Bagaimana jasa beliau tidak banyak, coba bayangkan, berapa ribu majelis di dunia ini yang mengkaji kitab Hadits Arbain? Riyadhus Shalihin? Bahkan mungkin detik ini, di belahan bumi yang lain, ratusan majelis sedang mengkaji Arbain, mengkaji Riyadhus Shalihin.

Gelar Muhyiddin tersebut adalah gelar internasional. Kalau di jaman sekarang, ibaratnya seperti dapat penghargaan Nobel. Nobel di bidang Sains (ilmu pengetahuan), di bidang kemanusiaan, di bidang pendidikan, dll. Ibaratnya Imam Nawawi seperti dapat Nobel di bidang Agama.

Coba sekarang kita posisikan diri kita ketika kita mendapatkan gelar/penghargaan. Orang kalau baru dapat gelar/penghargaan, biasanya mereka akan syukuran, pers conference, pidato, dsb.

“Saya berterima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa, pada dosen saya, pada manajer saya, pada penggemar saya yang sudah membeli karya-karya saya, dsb.”

Pertanyaannya, apa sikap Imam An Nawawi ketika mendengar bahwa beliau dinobatkan sebagai Muhyiddin? Sebagai penghidup agama? Apakah beliau berbangga? Apakah beliau konferensi pers? Tidak.

Beliau mengucapkan kalimat yang layak kita renungkan. Sebuah kalimat yang layak ditulis dengan tinta emas.

Imam Nawawi mengatakan,

لا أجعل في حل من لقبني محيي الدين

 “Aku tidak halalkan gelar itu melekat padaku, dan aku akan tuntut sampai hari kiamat orang yang memberikan gelar kepadaku dengan gelar Muhyiddin.”

Masya Allah. Yang kasih gelar dituntut. Beliau tidak terima. Beliau kecewa. Beliau sedikit marah. Beliau benci dengan gelar tersebut. Subhanallah.

Orang jaman sekarang dikasih gelar terima kasih. “Terima kasih telah memilih saya, terima kasih telah mem-vote saya, terimakasih telah mencoblos saya, dsb” Imam Nawawi mengatakan, “Saya akan tuntut sampai hari kiamat.”

Maka pertanyaan selanjutnya adalah: kenapa demikian? kenapa Imam An Nawawi berkata seperti itu?
Jawabannya adalah beliau paham esensi dari keikhlasan. Karena paham betapa beratnya menjaga keikhlasan. Ini dikarenakan, semakin tinggi gelar kita, semakin susah kita ikhlas. Semakin tinggi gelar kita, semakin mudah kita riya’, semakin mudah kita sombong.

Yang lebih mudah riya’ dan sombong orang yang punya gelar S-3 atau SD? pasti S-3. Kalau gelar SD apa yang mau disombongkan?
Mana mahasiswa yang berpotensi sombong/riya’nya lebih besar? yang IPK nya 4.0 atau 1.1? pasti 4.0. Kalau ada mahasiswa IPK nya 1.1 masih sombong, tidak tahu diri orang itu.

Jadi, semakin tinggi gelar kita, semakin berprestasi kita, dan semakin kita diakui oleh orang-orang, potensi sombong semakin besar, potensi riya’ semakin besar, dan itulah yang dipahami betul oleh Imam An Nawawi.

Oleh karena itu, gelar yang disematkan ke nama beliau, itu sama saja memberikan beban baru kepada beliau, dan beliau tidak terima. Itulah sebabnya beliau katakan, “Aku tidak halalkan gelar itu melekat pada diriku, dan aku akan tuntut sampai hari kiamat orang yang memberikan gelar kepadaku dengan gelar Muhyiddin.”

Disari dari kajian ustadz nuzul dzikri hafidzahullah 
Potret ulama dalam menjaga keikhlasan
Baca juga :
Checkout Form Whatsapp
Data Anda
Data Lainnya
KIRIM