4 Prinsip Cinta Yang Harus Diketahui Menurut Imam Al Ghazali

Setelah sebelumnya kita membahas tentang tanda-tanda cinta, akan lebih lengkap rasanya kalau kita juga membahas hakikat cinta itu sendiri.

Agar pemahaman kita tentang cinta menjadi lebih mantap dan kita mampu menempatkan cinta sesuai dengan tempat yang tepat dan proporsional.

Salah satu ulama besar yang pernah membahas ini dan membubuhkannya menjadi uraian-uraian khusus ialah imam abu hamid al ghazali. Di dalam bukunya "al mahabbah wal syawq wal uns wal ridha" beliau mengurai banyak sekali risalah yang berkaitan dengan cinta

Kali ini elgharuty.com ingin berbagi sedikit catatan mengenai Prinsip Dalam Cinta yang layak untuk kita ketahui, semoga bermanfaat!

Mengenal Objek Yang Dicinta

Prinsip pertama menurut imam al ghazali dalam cinta ialah harus mengenal terlebih dahulu objek yang dicintai. Menurutnya hal ini karena berkaitan dengan sifat cinta itu sendiri, cinta tidak pernah dialami benda-benda mati.

Namun, cinta hanya dialami oleh benda-benda hidup. Makhluk-makhluk hidup mampu mendeskripsikan cinta jika ia mengenal objeknya terlebih dahulu.

Al ghazali membagi tiga objek yang harus seseorang kenali dalam cinta:

  1. Objek yang sesuai dan seirama dengan naluri kemanusiaannya, yang bisa memberi kepuasan dan kenyaman.
  2. Objek yang bertentangan dan berlawanan dengan naluri kemanusiaannya, yang menimbulkan pe rasaan pedih dan sakit.
  3. Objek yang tidak menimbulkan pengaruh apa-apa terhadap naluri kemanusiaannya, tidak memberi kenyamanan juga tidak menyakitkan.

Konsekuensi dari masing-masing objek tentunya berbeda. Objek yang menimbulkan kesan nyaman itulah yang pasti akan dicintai. Sehingga cinta di sini merupakan rasa yang secara naluriah cenderung atau suka terhadap sesuatu tertentu.

Demikian sebaliknya jika objek tersebut menimbulkan kesan yang menyakitkan, ia pasti akan dibenci. Berkebalikan dengan cinta, benci secara naluriah membuat berpaling dari sesuatu tertentu.

Mengenal Ragam Cinta

Prinsip kedua menurut al ghazali ialah kita harus mengenal ragam dari cinta karena pengenalan yang sebelumnya dilakukan dipengaruhi banyak hal dan diantaranya adalah panca indra yang ada.

Masing-masing indra memberi rasa nikmat dan kenyamanan terhadap objek tertentu. Dengan indra penglihatan cinta bisa dikenali tatkala memandang sesuatu yang indah dan menentramkan dari objek yang dicintai, pendengaran akan merasa nyaman, indra peraba merasa lembut ketika menyentuhnya, dan lainnya ketika indra berada pada titik kenikmatan.

Di sisi lain beliau juga menambahkan; Hati. Sebagai perwujuddan lain dari indra yang mengenalkan kita kepada cinta. Dengan hati itulah seseorang akan mampu mengetahui kenikmatan-kenikmatan lain yang tak mampu disentuh panca indra.

Oleh karena itu ada yang merasakan lezatnya sholat, indahnya bermunajat dan lainnya karena telah menyentuh cinta dari sisi yang lain. Menurut beliau Rahimahullah:

Dengan hati kita bisa "melihat" keindahan metafisik seseorang yang tentunya lebih mengesankan daripada keindahan visual yang diterima indra penglihatan.

Dengan hati akan memandu akal dan naluri kita pada objek yang dicinta menjadi lebih kuat. Oleh karena itu, cinta yang hakiki sering kali didefinisikan sebagai "kecenderungan" terhadap sesuatu yang telah dikenali bisa memberi kenikmatan.

Baca juga Belajar Bahasa Arab Otodidak, Channel Youtube ini Akan Banyak Membantu.

Mengetahui Kepada Siapa Cinta itu Hendak Dilabuhkan

Menurut al ghazali ada beberapa hal yang musti diperhatikan untuk menyelami lebih jauh lagi tentnag cinta, yakni faktor dan kecenderungan cinta sebagai berikut:

Kecenderungan untuk mencintai diri sendiri

Al ghazali mengatakan bahwa pada dasarnya manusia mencintai dirinya sendiri, kalaupun mencintai orang lain itu juga demi dirinya sendiri. Secara nauluriah kita mengignikan diri ini terus lestari selamanya.

Apa yang dicintainya, secara naluriah, mestilah sesuatu yang dipandang cocok dan layak bagi diri nya. Oleh karena itu Apakah ada sesuatu yang paling ditentang dan dihindari selain lenyapnya diri dan keberadaannya?

Ketika diberi cobaan, sebetulnya yang ia inginkan adalah hilangnya penderitaan itu, bukan hilangnya keberadaan dirinya.

Bahkan, jika ia pun menginginkan kebinasaan, itu semata karena dengan begitu penderitaannya akan lenyap. Dengan demikian, kehancuran dan kebisanaan adalah dua hal yang dibenci, sedangkan kelestarian ke beradaan diri adalah sesuatu yang dicintai.

Dengan demikian, jelaslah bahwa pertama-tama manusia mencintai dirinya sendiri, kemudian keselamatan anggota tubuhnya, harta bendanya, anak-keturunannya, keluarganya, dan sahabat-sahabatnya.

Kebaikan atau nilai positif tertentu

Menurut al ghazali manusia pada hakikatnya "budak kebaikan", hati manusia diciptakan oleh Allah dengan watak mencintai orang yang berbuat baik padanya dan membenci orang yang berbuat jahat padanya.

Oleh karena itu tidak tidak jarang melihat ada orang yang mencintai orang lain yang seberanya tidak ada hubungan keluarga ataupun kekerabatan deangannya.

Misalnya seseorang mencintai gurunya karea sang guru menjadi sebab kebaikan berupa ilmu diterima olehnya. atau ketika manusia mencintai harta karena dengan harta itu ia dapat memiliki suatu hal yang ia ingikan.

Kalau ia mencintai orang yang berbuat baik, maka itu karena kebaikannya. Ia sebenarnya bukan mencintai diri orang yang berbuat baik itu. Ini jelas hanya respons terhadap salah satu tindakan baiknya. Jika kebaikannya habis, maka habis pula cintanya, walaupun diri orang yang berbuat baik itu sebenarnya masih ada.

Jika kebaikannya berkurang, maka berkurang pula cintanya. Jika bertambah, maka bertambah pula cintanya. Cinta bisa berkurang atau bertambah sesuai dengan berkurang dan bertambahnya kebaikan yang dilakukan orang lain terhadap dirinya.

Wujud dari sesuatu yang ia cintai

Orang mencintai sesuatu demi wujud dari sesuatu itu sendiri, bukan karena ada hal lain yang ingin ia dapatkan di balik wujud sesuatu itu. Sebagai contoh, cinta terhadap kebaikan dan keindahan.

Bukankah segala yang indah itu dicintai oleh orang yang mengenal nilai keindahan? Ia mencintai keindahan demi nilai keindahan itu sendiri, karena mengenal keindahan merupakan sebuah kenikmatan. Dan, kenikmatan itu di cintai karena wujudnya sendiri, bukan karena yang lain.

Hal ini jelas tidak dapat diingkari. Bukankah hijau-hijauan dan air yang mengalir dicintai bukan karena ingin dimakan, diminum, atau diambil?

Tiga faktor di ataslah yang menimbulkan kenikmat an. Sesuatu yang nikmat pastilah akan dicintai semua orang. Demikian pula, mengenal dan mengetahui nilai kebaikan dan keindahan adalah sebuah kenikmatan.

Baca juga Selamat tinggal kegundahan dan kesedihan

Mengetahui Makna Kebaikan dan keindahan

Abu hamid al ghazali mengatakan bahwa orang yang terpenjara dalam observable world mungkin mengira bahwa makna kebaikan dan keindahan hanyalah sebatas bentuk dan potongan yang serasi, warna yang bagus, kombinasi warna putih dengan warna merah, postur tubuh yang atletis dan semampai, atau sifat-sifat lain yang berhubungan "citra" manusia.

anggapan seperti ini jelas keliru. Sebab, keindahan tidak hanya sebatas sesuatu yang dapat diidentifikasi lewat indra penglihat. segala sesuatu yang kita identifikasi pasti menim bulkan kesan baik atau buruk, indah atau jelek. Lalu apa makna umum dari keindahan sehingga dapat mencakup semua hal yang disebutkan di atas?

Citra setiap sesuatu bersifat lahir dan batin. Kebaikan dan keindahan tercakup dalam kedua citra itu sekaligus. Citra lahir teridentifikasi lewat penglihatan mata lahir, sedangkan citra batin teridentifikasi lewat penglihatan mata batin.

Menakjubkan sekali ketika seseorang mencintai nabi dan rasulNya padahal secara visual ia tidak pernah melihat keindahannya. Tidak mengetahui pada citra fisik tetapi pada citra nonfisik sang nabi yang bersifat rohaniah-batiniah yang kita rasakan. begitupula kekaguman seseorang kepada abu bakr r.a karena keteguhan hatinya, kelembutan akhlaqnya dan banyak kebaikan yang bahkan ia sendiri tidak pernah melihatnya.

Dengan demikian, cinta seseorang tidak terbatas hanya kepada orang yang berbuat kebaikan kepada dirinya. Ia juga mencintai setiap orang yang berbuat kebaikan, walaupun kebaikan itu tidak pernah sampai kepadanya.

Keselarasan Antara Yang Mencinta dengan Yang Dicintai

Sering kali cinta terjalin antara dua orang bukan karena alasan keindahan atau keberuntungan, tetapi semata karena adanya keselarasan jiwa antara keduanya. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasalam,

“Sesuatu yang sejalan melahirkan kesatuan, sedang kan sesuatu yang bertentangan melahirkan perselisihan.” (diriwayatkan oleh Muslim melalaui Abû Hurayrah)

Penutup

Jika kesemua prinsip di atas dipahami dan faktor-faktornya menyatu dalam diri seseorang akan meningkatkan kekuatan cinta dalam dirinya. Imam al ghazali memberikan pemisalan pada seseorang yang mempunyai anak laki-laki yang wajahnya tampan, berbudi pekerti luhur, luas ilmunya, brilian pemikiran nya, suka berbuat baik kepada orang lain, dan berbakti kepada ibu-bapaknya.

Yang pasti ia akan dicintai se tengah mati oleh orangtua dan semua orang yang me ngenalnya. Ia juga akan lebih dicintai lagi bila semakin meningkat kualitas sifat-sifat baiknya itu.

Kemudia beliau juga memberikan catatan bahwasannya faktor-faktor tersebut hanya dapat menyatu secara sempurna dalam pangkuan Allah subhanahu wataala.

Sekian catatan ini, semoga bermanfaat.

Belajar mencintai
4 Prinsip Cinta Yang Harus Diketahui Menurut Imam Al Ghazali
Baca juga :
Checkout Form Whatsapp
Data Anda
Data Lainnya
KIRIM