Mengapa Sebagian Orang Memilih "Menikmati" Kesendirian ?

 

Elgharuty - Di hari senin yang indah kemarin, saya menghabiskan waktu di rumah lebih lama dari hari-hari lain sebelumnya. Hingga menjelang senja saya masih berada di depan laptop tercinta membaca berbagai bacaan dan menulis tulisan yang beberapa hari tertunda dan belum usai. 

Gerak tangan yang menggenggam mouse tetiba terhenti sejenak, Pupil mata menjadi terfokus tatkala menemukan sebuah quotes yang disampaikan Tom hardy - aktor hollywood yang terkenal memerankan karakter venom. Pada sebuah gambar ukuran 4:3 itu tertuang kata-kata yang jika diartikan kurang lebih seperti ini :

"Menjadi sendirian sebentar saja sangatlah berbahaya. Itu sangatlah candu! ketika kamu mendapati "ketenangan" dari kesendirian,  kamu tidak akan mau lagi berurusan dengan orang lain"

Sejenak satu paragraf tulisan tersebut berhasil menghantui isi kepala, apa benar secandu itu yang namanya kesendirian?. Bukankah di luar sana ada yang mengeluhkan kesendirian? entahlah, hingga saya sadar bahwa menjelang maghrib ini saya hanya menjalani aktifitas sendirian, keluar sebentar hanya untuk membantu ibu membuat gingerbread cake.

Pada akhirnya pertanyaan tersebut mengisi daftar agenda bacaan, dan menelisik hasrat keingin tahuan saya untuk memahami apa sebenarnya yang ada di dibalik sebuah kesendirian?, kenapa sebagian orang -semisal tom hargi mengatakan hal seperti itu?. saya publis catatan saya lagi di sini semoga bermanfaat bagi para pembaca.

Ada Apa Dengan Kesendirian?

Kita semua pasti tidak aneh dengan kata "sendirian", bahkan mayoritas dari kita merasa memahami apa yang di maksud dengan sendirian. Di kehidupan real, tidak sedikit dari kita tidak menyukai kesendirian, mungkin anda atau saya lebih cenderung menginginkan kebersamaan dengan yang lainnya.

Namun nyatanya kita pernah bergumam pada diri sendiri atau mengatakannya kepada orang lain bahwa "aku ingin sendirian dulu", entah di rumah, tempat kerja atau ketika teman terdekat kita sedang menawarkan sesuatu yang menarik, kita malah menolaknya dan memilih sendiri. 

Kecenderungan untuk memilih sendiri tentunya dilatar belakangi oleh berbagai penyebab, dan setiap orang memiliki alasannya masing-masing. mungkin karena menghabiskan waktu sendirian memungkinkan kita untuk terhubung kembali dengan "diri" kita yang sebenarnya. 

Kondisi seperti tekanan yang meningkat dari hari kerja menuntut kita untuk tetap bersosialisasi, aktif, dan sangat fokus selama setiap menit setiap hari, kita tidak hanya kelelahan, kita bahkan kehilangan diri kita sendiri dalam kesibukan sehari-hari. 

Kita kehilangan jejak suara hati kita, tujuan, pikiran, impian, dan kebiasaan kita yang menjadikan kita seperti sekarang ini ketika tidak ada orang lain di sekitar kita. Dan mungkin sebagaimana yang disampaikan tom hardy, bahwa hanya ketika sendirianlah kita dapat eksis dengan bebas dan tenang, tanpa suara orang lain yang menenggelamkan kita, dapat kembali berhubungan dengan "diri kita yang sebenarnya dengan nyaman".

Apa Yang Dilakukan Orang-orang Yang Memilih Sendirian?

Tidak hanya kita, orang-orang dari masa lampau juga banyak yang mempertimbangkan untuk memilih "me time" sebagai bagian terpenting dalam hidup mereka. Orang-orang besar, para pemikir semisal Al-ghazali, Ibn Khaldun, Plato, dan manusia terbaik yakni Muhammad shollallahu alaihi wasalam juga pernah memilih menyendiri pada masing-masing kondisi mereka. 

Juga Henry David Thoreau pada pertengahan 1800-an, dan tahun-tahun yang dihabiskannya dalam perenungan dan penemuan diri yang tenang memberinya wawasan, kreativitas, dan kesadaran diri untuk menyusun karya maninya, On Walden Pond, yang diterbitkan pada tahun 1854. 

Baca juga Review Buku "The Black Swan" Karya Nassim Nicholas Taleb - Membuka Mindset Kita

Ternyata banyak dari para pendahulu kita memanfaatkan kesendirian mereka untuk berpikir, mejaga diri, bahkan melakukan hal-hal produktif yang kreatif. Kesendirian tidak identik dengan rebahan, berdiam di kamar sahaja. Jadi, jika kita merenungkan sejenak hubungan antara kesendirian dan kreativitas, Kita mungkin harus bertanya pada diri sendiri: apa yang bisa saya capai? Jika kita membiarkan diri kita menghabiskan waktu sendirian, rejuvenasi dan membuka potensi kreativitas, kita bisa menjadi apa?

Mencapai Hubungan Transedental

Sebenarnya apa sih yang memotivasi kita untuk memilih sendiri? kita bisa berkarya dengan orang lain juga. apakah kondisi seperti mungkin saat kita mencoba untuk melepasakan diri dari sosial media & teknologi mendorong kita untuk memilih mengambil beberapa wwaktu untuk sendirian? lantas apa yang bisa kita lakukan?

Menurut salah satu penulis buku religius fantasy mengungkapkan bahwa jika kondisi kita seperti di atas, maka salah satu cara yang paling nyaman dan tepat dalam melakukan penyendirian yakni dengan menyatu dengan alam (Back to nature). 

Menurutnya, membenamkan diri dalam keindahan dan ketenangan alam adalah satu-satunya cara untuk benar-benar memutuskan hubungan dan menemukan kesunyian damai yang baru saja kita bahas. Jika kita sendirian di hutan yang indah atau terlibat dalam pendakian yang menyegarkan, kita tidak hanya akan "dipaksa" untuk memutuskan sambungan dari ponsel, namun juga akan diajak untuk keluar dari pikiran kita sendiri dan menyatu dengan alam secara transedental.

Menurut KBBI  transendental/tran·sen·den·tal/ /transéndéntal/ a 1 menonjolkan hal-hal yang bersifat kerohanian; 2 sukar dipahami; 3 gaib; 4 abstrak 

"Transendensi," yang berarti keadaan di mana pikiran kita melampaui masalah sepele dari kehidupan biasa sehari-hari. Salah satu konsep yang cukup dipuja secara universal di berbagai budaya dan selama berabad-abad, orang telah mengakui the value of being alone.

Misalnya dalam budaya suku aborigin australia, remaja dikirim dalam perjalanan menyendiri ketika mereka mencapai usia tertentu. Ritual kedatangan usia ini bersifat wajib - disebut sebagai "walkabout" - adalah perjalanan enam bulan yang dilakukan dalam kesendirian dengan implikasi bahwa enam bulan dihabiskan sendirian di alam akan membantu seseorang mengenal dirinya sendiri dan lebih siap untuk dewasa.

Demikian juga di Abad Pertengahan, siapa pun yang berlatih untuk menjadi seorang ksatria akan diminta untuk menghabiskan waktu tertentu sendirian dalam perenungan yang tenang. Dalam setiap kasus, waktu penemuan diri ini dipandang penting untuk membuat transisi ke masyarakat dewasa dan membantu kita menjadi orang yang lebih baik. Jadi, mengapa kita tidak mencobanya? 😃

Mengapa Kita Malah Takut Sendirian?

Sekarang setelah kita membicarakan semua benefits dari menyendiri, kita mungkin mempertimbangkan kembali asumsi negatif kita sebelumnya tentang menyendiri. Tetapi karena anggapan negatif itu begitu umum, kita sekarang harus bertanya: jika menyendiri sangat baik untuk kita, mengapa orang yang menghabiskan waktu sendirian sering dianggap aneh, egois, atau bahkan tidak wajar?

Atau bahkan meski kita suah mengetahui manfaat dan nili positif penyendirian, kita masih saja takut menghadapi kesendirian dan tidak mau mengecap kesendirian. Salah satu alasan kuat yang dijelaskan oleh para pakar mengenai hal ini yakni karena kita takut terjebak ke dalam individualisme.

Baca juga Berhenti Bergosip Meski Menyenangkan

Philip Koch dalam bukunya yang mengeksplorasi reaksi negatif masyarakat kita terhadap mereka yang memilih kesendirian sebagai gaya hidup aktif. Koch menyarankan bahwa evolusi kita mungkin bertanggung jawab, karena orang berevolusi untuk menemukan kesuksesan dalam persahabatan. 

Karena naluri dasar kita mengundang kita untuk menyamakan angka dengan keselamatan dan keamanan, kita mungkin secara inheren curiga terhadap mereka yang sengaja menonjol dari suatu kawanan. Dan meskipun kita mungkin mendorong ekspresi diri melalui pilihan mode atau kegiatan kreatif yang mendukung individualisme, realitanya kita mungkin sedikit lebih waspada terhadap mereka yang tampaknya tidak membutuhkan validasi masyarakat terhadap gaya hidup mereka.

Demikian juga, orang mungkin curiga terhadap mereka yang lebih suka menyendiri karena kita tahu bahwa kita membutuhkan persahabatan untuk bahagia. Karena penelitian psikologis ekstensif yang membuktikan bahwa hubungan manusia sangat penting untuk kebahagiaan dan pertumbuhan pribadi, kita mungkin secara inheren berasumsi bahwa mereka yang memilih kesendirian menolak hubungan itu dan pada gilirannya, menolak kebahagiaan. 

Akan tetapi meskipun kita semua membutuhkan persahabatan dan dukungan dari orang lain, kehidupan yang dihabiskan dalam perenungan yang tenang tidak bergantung pada penolakan orang lain -Sara maitland-

Dan penting juga untuk diingat bahwa setiap orang memiliki tingkat optimal interasi yang berda-beda. Lagipula, itu seharusnya tidak terlalu sulit untuk dipahami; kita semua tahu bahwa introvert dan ekstrovert adalah suatu hal yang benar-nenar ada! 

Jadi, karena kita tahu itu, kita dapat menerima bahwa beberapa orang berkembang dengan interaksi manusia yang konstan sementara yang lain berkembang dengan menggunakan waktu sendirian untuk mengisi ulang energi mereka. 

Poin utamanya adalah bahwa itu berbeda untuk setiap orang dan kita harus ingat bahwa stigma seputar kesendirian umumnya merupakan kesalahan stereotip yang tidak adil atau dangkal. Jadi, jangan biarkan hal-hal tersebut menahan kita!

Cara Mengatasi Takut Sendirian

Karena stigma yang cukup melingkupi kesendirian, sangat mungkin bagi kita memiliki ketakutan atau keraguan untuk memutuskan hubungan untuk sementara waktu. Jadi, apa yang dapat kita lakukan untuk mengatasinya dan membuka potensi kita dari kesendirian ini? 

Ya, pertama-tama penting untuk mengidentifikasi ketakutan kita dan jujur ​​pada diri sendiri. Kita juga harus menyadari bahwa ketakutan ini mungkin tidak selalu hadir atau di garis depan pikiran kita. Dalam beberapa kasus, ketakutan tersebut mungkin bermanifestasi sebagai perasaan bahwa kita ingin sendirian, namun untuk beberapa alasan, kita tidak pernah dapat menemukan waktu. 

Ini adalah contoh ketakutan bawah sadar yang membuat kita tidak berani menyentuh kesendirian. Jadi, luangkan waktu untuk penilaian diri dan bersiaplah untuk membersihkan 'jaring laba-laba' dari keraguan ini dari pikiran.

Tatkal kita mengakuinya, kita dapat mengambil beberapa langkah kecil dan praktis untuk melawannya. Jika kita takut waktu yang dihabiskan untuk diri sendiri akan membuat kita kewalahan atau terlalu kesepian, cobalah dalam dosis mikro untuk menguji tingkat kenyamanannya. 

Baca juga Berhenti terfokus pada hal-hal buruk tak bernilai, Review buku sebuah seni bersikap bodo amat

Misalnya dari hal-hal sederhana, saya atau anda bisanya mandi terburu-buru karena mengejar jam kerja atau kuliah. Cobalah untuk mencobanya di suatu hari lebih santai, bermandikan busa kita melakukannya secara perlahan. Dapatkan kenyamanan dan biarkan diri Anda berlama-lama merasakan sensasi menyendiri di tempat yang santai dan intim. 

Lihat ke mana pikiran kita pergi dan bagaimana perasaannya tentang arah yang membawa kita masuk. Dan jika lebih nyaman, kita bahkan dapat mencoba menyendiri di tengah keramaian, seperti secara aktif membuat zonasi melalui bantuan buku atau musik saat kita sedang di bus atau kereta yang penuh sesak.

Dengan menilai tingkat kenyamanan dengan cara-cara kecil ini, kita dapat segera meningkatkan ke hal lain yang lebuh bergaya, seperti jalan-jalan sendirian, atau waktu yang dihabiskan untuk berkarya menciptakan sesuatu, seperti dalam kasus virginia wolf

Tidak peduli bagaimana kita melakukannya, yang penting adalah kita mengambil langkah aktif untuk memupuk praktik sehat dalam kehidupan sehari-hari. Perlu diingat bahwa waktu sendirian tidak harus menakutkan dan itu tidak berarti kita harus menutup diri dari orang lain. Sebaliknya, ini tentang praktik sederhana meluangkan waktu untuk kita. 

Mengapa Sebagian Orang Memilih "Menikmati" Kesendirian ?
Baca juga :
Checkout Form Whatsapp
Data Anda
Data Lainnya
KIRIM