Adiksi Media Sosial: Mendekatkan yang Jauh, Menjauhkan yang Dekat

Hidup di era perkembangan teknologi yang pesat menjadikan kita tak lepas dari peranan medai dalam kehidupan. Media sosial adalah ssalah satu produk yang hampir tak terpisahkan dari kehidupan manusia modern. Sebagai produk media baru yang menyajikan kemudahan akses informasi tanpa adanya batas ruang dan waktu, adanya internet hadir menmdukung eksistensi dan menjadi urat nadi dari aktivitas di media sosial.

Media sosial menjadi media yang difavoritkan oleh banyak orang sebab tak hanya berfungsi untuk mencari dan menerima informasi, tetapi dapat digunakan untuk memproduksi dan menyebarkan informasi yang kita ciptakan kepada khalayak di dunia maya.

Berbagai lini kehidupan manusia ditampilkan di media sosial, mulai dari gaya hidup, pendidikan, bahkan hingga bahasan mengenai isu politik dan pemerintahan.

Kehidupan yang “sempurna dan diidamkan” banyak ditemukan di media sosial ini. Terlepas konten yang ditampilkan tersebut bersifat asli maupun manipulatif, keberadaan konten-konten yang menampilkan kesempurnaan hidup ini menjadikan tak sedikit dari warganet betah untuk melakukan aktivitas mayanya.

Ada yang mengonsumsi konten-konten indah tersebut sebagai bentuk motivasi agar giat bekerja, sebagai hiburan, atau parahnya sebagian orang menjadikan ini sebagai media untuk membandingkan dirinya dengan kepunyaan orang lain.

Keragaman konten sejatinya tidak menjadi masalah serius apabila para pengguna dapat mengendalikan dirinya dengan menerapkan filter saat mengonsumsi konten. Filter ini digunakan untuk menyaring apa saja yang ingin dikonsumsi. Filter dapat dipakai langsung pada aplikasi, seperti penggunaan like, share, comments di jenis unggahan konten tertentu yang akan memengaruhi konten rekomendasi berikutnya.

Namun, filter yang paling penting ada pada diri kita sendiri. Kemampuan untuk menganalisis pesan menjadi hal yang relevan untuk dilakukan di tengah kerasnya paparan informasi.

Adiksi Media Sosial

Berbicara mengenai media sosial, maka tak bisa dipisahkan pula dengan aktivitas komunikasi di dalamnya. Di media sosial, kita bisa bebas memilih siapa orang yang ingin diajak berkomunikasi. Tak peduli telah kenal atau belum, selama komunkikasi dilakukan dengan benar dan nyaman, maka media sosial akan menjadi platform yang sangat ideal untuk menemukan orang-orang baru yang komunikatif.

Kenyamanan komunikasi di media sosial menjadikan tak sedikit orang betah untuk berlama-lam di depan gadget. Media sosial mampu mendekatkan banyak orang dari berbagai belahan dunia tanpa adanya batasan jarak sebagai masalah. Namun, keasyikan ini nyata berpotensi membawa dampak kurang positif bagi sebagian orang.

Social media addicted atau adiksi pada media sosial adalah kondisi di mana sesorang sangat bergantung pada adanya media sosial. Ibarat batagor bandung dengan bumbu kacang, rasanya sangat sulit untuk dipisahkan. Adiksi pada media bisa berbahaya jika dianggap normal, sebab dalam kasus ini seseorang akan selalu ingin dan betah beraktivitas di dunia maya hingga melupakan kehidupan di dunia nyata.

Adiksi ini umumnya bermula karena tidak adanya pembatasan durasi dalam menggunakan media sosial, sehingga terbentuk kebiasaan yang mengaburkan pentingnya penggunaan waktu secara bijaksana.

Ketika seseorang mengalami adiksi pada media sosial, maka tujuan utama media yang dapat menjembatani hubungan antar manusia dengan mengaburkan batasan jarak akan berubah ke ranah yang negatif. Mugkin, seseorang dapat menemukan orang baru di media dan menjalin hubungan yang dekat. Namun, di lain sisi adanya pengurangan intensitas interaksi dengan orang-orang di dunia nyata justru bisa merenggakan hubungan dan membangun jarak imaginer di antara mereka.

Lepas dari Jebakan Adiksi Media Sosial

Well, Kawan Elgharuty! Mungkin di antara kita ada yang pernah atau hampir mengalami kondisi seperti ini, di mana aktivitas harian kita terasa tidak lengkap jika tidak dibersamai dengan gadget, update postingan di media sosial, scrolling beranda berjam-jam dan hal serupa lainnya. Nah, apabila kondisi imi idiwajarkan, maka potensi untuk terkena adiksi media sosial bisa muncul. Karenanya, penting untuk membatasi diri agar kita tetap bisa menggunakan media secara sehat.

Manajemen waktu adalah hal sederhana yang efektif diterapkan untuk mencegah dari masuknya kita ke dalam perangkap adiksi media sosial. Dengan membatasi diri sendiri secara disiplin, maka kita bisa menyeimbangkan waktu antara kehidupan di dunia maya dengan dunia nyata. Tak dapat dinafikkan bahwa sebagian dari kita akan sulit untuk benar-benar terlepas dari aktivitas maya, karenanya pembatasan adalah hal yang penting dilakukan.

Kita bisa menentukan jam-jam khusus untuk bersosial media dengan periode waktu yang cukup memuaskan, misal 1 jam untuk membaca berita, menikmati konten hiburan, dan membalas pesan masuk dari teman-teman kita. Namun, tak ada salahnya jika kita sesekali melihat media sosial untuk memeriksa notifikasi yang masuk. Asalkan, jangan sampai niat hanya untuk memeriksa sekilas berubah menjadi aktivitas intens di luar batasan jam yang ditentukan akibat terlalu asyik.

Di sebagian platform media sosial, kita bisa menghidupkan pengaturan yang dapat mengirmkan peringatan apabila kita telah melebihi batas waktu bermain media sosial dari waktu yang ditentukan. Fitur ini cukup efektif untuk menjadi pengingat di saat kita teralalu asyik bermain di media sosial. Namun, efektivitasnya tetap bergantung pada kedisiplinan kita.

Begitulah kehadiran media sosial sebagai media baru memang tak bisa sepenuhnya dilepaskan dari kehidupan manusia modern. Namun, kita tetap bisa mengatur diri sendiri agar tidak sampai terkena adiksi dan mengganggu kehidupan kita di dunia nyata. Kalau menurut Kawan Elgharuty, ada gak sih tips lain untuk menghindarkan diri dari paparan adiksi media sosial? Tulis di kolom komentar, ya!

Additional article by Agung Zakaria (instagram.com/ag._.ng)
Adiksi Media Sosial: Mendekatkan yang Jauh, Menjauhkan yang Dekat
Baca juga :
Checkout Form Whatsapp
Data Anda
Data Lainnya
KIRIM